Kamis, 20 Juni 2013

Saya Gemuk, Pacar Saya Tampan. Memang Kenapa?

Saya Gemuk, Pacar Saya Tampan. Memang Kenapa?

Pacar saya Ali memiliki tinggi 177 cm dengan mata biru, senyum berlesung pipit dan tubuh berotot. Dia seseorang yang kemungkinan besar akan dikira berpacaran dengan wanita langsing dan seksi… Tidak. Saya justru gadis gemuk.
Gloria Shuri Nava dan kekasihnya Ali.

Kami sudah berpacaran selama 18 bulan, dan di mana pun kami pergi — baik sedang berjalan bergandengan tangan di mal, bandara atau jalan — orang-orang terlihat bingung seakan-akan berkata, pria itu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik!

Ketika orang berkomentar, kata-kata mereka mulai dari kalimat yang kejam ("Apakah dia buta?" atau "Dia hanya bersamamu untuk mendapatkan KITAS?") sampai menyindir seperti, “Bagus ya, dia tidak sekadar melihat penampilanmu" atau "Dia baik sekali mau berpacaran denganmu." Saya biasanya menjawab, "Dia tidak sedang beramal — dia memang pacarku!"

Sesekali, bahkan orang-orang dekat saya membuat pernyataan yang tidak mengenakkan. Pernah, ketika saya bercerita kepada seorang teman, "Aku masih tidak percaya dia menyukaiku," teman saya menjawab, "Ya, aku juga!"

Tapi reaksi terburuk berasal dari orang-orang anonim di internet. Saya memiliki saluran YouTube, Glowpinkstah, dengan lebih dari 250.000 pelanggan, dan sebagai seorang pelawak, saya meninjau produk kecantikan, menjawab email para penggemar, berbagi humor dan detail tentang kehidupan saya, sehingga mereka tahu semua tentang Ali dan saya. Sementara sebagian mendukung, ada cukup banyak yang mengganggu:

"Wanita ini punya pacar? Apa yang salah dengan dunia ini?"

Saya berusia 25 tahun, dan sudah kelebihan berat badan sepanjang hidup saya. Saya gemuk saat masih kecil, tapi tidak besar seperti sekarang. (Maaf, berat badan saya rahasia.) Saya hanya benar-benar menyukai makanan, dan saya tidak berpikir tentang konsekuensinya.

Juga, saya tidak peduli tentang penampilan saya — tetapi justru orang lain yang peduli. Di SMP, ada orang yang meniru cara saya berjalan, dengan kedua paha yang saling bergesekan. Meskipun itu membuat saya marah, saya menyadari bahwa itu adalah masalahnya, bukan masalah saya.

Saya bertemu Ali (22) secara online pada akhir 2009. Mia Tyler, adik Liv Tyler, mengetwit link ke salah satu video saya. Ali mengikutinya hingga ke akun Twitter saya. Dia bilang dia melihat gambar saya dan berpikir, "Dia manis.”

Kemudian dia mengikuti acara saya di Blog TV yang sudah tidak beroperasi lagi, yang memungkinkan pelanggan untuk berbicara dengan saya langsung melalui webcam. Saat saya berbicara tentang mimpi saya, dia menawarkan diri untuk membaca artinya. "Aku mempelajari psikologi," kata Ali. Jadi saya memberinya nama akun messenger saya agar kami bisa chatting.

Dua setengah tahun kemudian, jarak dan waktu antara kami hampir tidak berpengaruh. Kami menghabiskan begitu banyak jam sepekan berbicara secara online. Saya pikir Ali itu lucu juga, tapi saya pikir seseorang seperti dia tidak akan memiliki perasaan untuk saya. Dan dia tiga tahun lebih muda — saya pernah berkencan dengan begitu banyak orang yang belum dewasa dan saya ingin seseorang yang lebih tua.

Sementara itu, Ali baru saja putus, dan apakah saya benar-benar ingin jatuh cinta pada seseorang yang tinggal di Skotlandia sementara saya di Amerika?

Gloria dan Ali di sebuah pesta.
Namun saya tidak merasa lengkap jika waktu berlalu tanpa pesan dari dia, dan Ali mengatakan dia tidak bisa memulai hari tanpa Skype dengan saya. Saya tahu dia tertarik dengan wanita bertubuh besar (terlihat dari mantan-mantannya yang berbadan besar). Beberapa orang berpikir itu aneh, tapi namanya juga selera.

Dan hubungan kami bukan seperti situasi Catfish (hubungan melalui internet dan tidak pernah bertemu): kami mengetahui penampilan masing-masing, dan kami melibatkan teman-teman dan keluarga yang lain dalam obrolan online kami. Kami tidak menyimpan rahasia — kecuali fakta bahwa kami jatuh cinta.

Akhirnya, pada Desember 2011 saya mengungkapkan, "Aku menyukaimu!" melalui Skype ... kemudian langsung menyesal. Kami adalah teman baik. Apakah persahabatan ini bakal berakhir? Namun Ali memandang tepat ke webcam dan mengatakan, "Aku sudah menunggu lama untuk mendengarmu mengatakan itu." Dan dia juga menyukai saya.

Tidak lama setelah itu, Ali mengatakan dia mencintai saya. Kami belum bertemu langsung saat itu.

Pada 15 Mei 2012, Ali terbang ribuan kilometer untuk bersama saya. Dia tinggal di rumah keluarga saya, orang tua saya membolehkan, setelah menghabiskan enam bulan terakhir mulai mengenal dia secara online.

Ketika Ali mendarat di bandara San Francisco, dia menghubungi ponsel saya. "Kamu di mana?" tanyanya. Saya berada di luar klaim bagasi, gugup mencari rambut merahnya. "Tunggu," katanya, lalu menutup telepon. Saya berbalik dan melihat dia berjalan ke arah saya dengan senyum lebar di wajahnya. Dia memeluk saya dan mencium saya di bibir. Saya berpikir di dalam hati, Dia pacar saya, dan dia ada di sini!

Tujuh bulan kemudian, saya mengunjungi Ali di Glasgow. Saya telah berbicara dengan keluarganya di Skype, tapi saya merasa gugup untuk bertemu dengan mereka karena sebelumnya, orangtua mantan-mantan saya rata-rata tidak merestui saya.

Seorang mantan pernah bilang dengan tulus: "Mungkin jika kamu menurunkan berat badan, orangtuaku akan menerimamu, dan kita bisa bersama lagi."

Untungnya, orangtua Ali menerima saya. Saya tidak pernah benar-benar berbicara tentang pacar-pacar sebelumnya kepada orangtua saya. Namun mereka menyukai Ali dan perasaan itu berbalas. Itu hal yang baik, karena musim panas ini, dia pindah ke California untuk menempuh gelar PhD dalam psikologi klinis.

Ali adalah hal terbaik yang pernah terjadi pada saya. Dia membuat saya merasa baik sepanjang waktu. Saya pernah bertanya, "Mengapa kamu menyukai aku?" Dia mengatakan, "Karena kau cantik dan apa adanya.”

Gloria dan Ali.

Dan Ali juga baik bagi kesehatan saya. Berat badan saya yang terberat adalah ketika kami pertama bertemu, namun kini sudah turun 18 kg sejak saat itu. Tujuan saya adalah menurunkan berat badan saya sebanyak 36 kg, dan dia sangat mendukung.

Sebelum bersama Ali, saya tak pernah mengenakan baju yang terbuka, tapi dia membuat saya merasa percaya diri dalam gaun mini lucu yang tidak menutupi saya mulai dari kepala hingga kaki. Saya bisa memakai gaun tanpa lengan, celana pendek — sesuatu yang biasanya tidak ingin dilihat orang lain.

Video YouTube saya juga berubah. Saya menyadari ada lebih banyak komedi daripada membuat lelucon cabul. Penonton saya tumbuh dengan saya, dan ada anak-anak kecil menonton. Bukankah seharusnya saya menjadi contoh yang lebih baik?

Jadi, dengan dukungan Ali, saya mulai The Beauty Adjustment, proyek video kolaboratif di mana penonton setia saya membantu saya menyebarkan berita bahwa tidak ada satu cara "normal" pun untuk melihat atau mencintai.

Kecantikan dan hubungan datang dalam segala bentuk dan sisi: hitam, putihm pendek, tinggi, kurus, gemuk — dan satu pasangan tidak harus menjadi cermin untuk yang lain. Cinta adalah cinta. Itulah yang diajarkan Ali kepada saya, dan sekarang saya ingin mengajarkannya ke seluruh dunia.Yahoo

Jumat, 24 Mei 2013

Cara Berzikir Dengan Jari Tangan Kanan



Sahabat Ji, Banyak sebagian kaum muslimin setelah shalat fardhu' mereka berdzikir dengan kedua tangannya (tangan kanan dan tangan kiri) atau berdzikir dengan menggunakan tasbih (biji-bijian) Seperti ini dahulu Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bertasbih dengan jari kanannya. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh 'Abdullah bin 'Umar radhiyallaahu ta'ala 'anhuma, dia berkata, Silahkan perhatikan contoh poto tersebut.

رَأَيْتُ النَّبِيَّ يَعْقِدُ التَّسْبِيْحَ بِيَمِيْنِهِ

"Saya melihat Rasulullah bertasbih (berdzikir) dengan (jari-jari) tangan kanannya." (HR. Abu Dawud, II/81, at-Tirmidzi, V/521, Shahiihul Jami', IV/271, no. 4865)

Penjelasan:

Dalam hadits ini disyari'atkannya bertasbih (berdzikir) dengan jari jemari. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam menerangkan alasannya, antara lain dalam riwayat yang menyebutkan bahwa jari jemari itu akan ditanya dan akan berbicara sebagai saksi bahwa mereka mengetahui hal itu.

Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Hitunglah (dzikir) itu dengan ruas-ruas jari karena sesungguhnya (ruas-ruas jari) itu akan ditanya dan akan dijadikan dapat berbicara (pada hari Kiamat)." (HR. Abu Dawud, no. 1345) [Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan at-Tirmidzi]

Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuknya Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam.

Senin, 15 Oktober 2012

Rasaku

 Ketika aku mengenalmu
 Aku tahu itu ada rasa beda
 Ketika kumemandangmu
 Aku tahu separuh hatiku sudah bersamamu
 Setiap kali bibir ini memanggil namamu
 Ada kasih sayang masuk ke jiwaku

 Bila saatnya nanti tiba
 Biar nanti waktu yang bicara
 Aku hanya bisa berharap tak ada lara suatu saat
 Yang ada bahagia dan senyum tawa

Senin, 16 Agustus 2010

Kesaksian Orang Yang Mati Suri "Menyaksikan Orang Disiksa dan Ingin Kembali ke Dunia" Pengalaman mati

Pengalaman mati suri seperti yang dialami Aslina, telah pula dirasakan banyak orang. Seorang peneliti dan meraih gelar doktor filsafat dari Universitas Virginia Dr Raymond A Moody pernah meneliti fenomena ini. Hasilnya orang mati suri rata-rata memiliki pengalaman yang hampir sama. Masuk lorong waktu dan ingin dikembalikan ke dunia.

Catatan ini dilengkapi pula dengan penjelasan instruktur ESQ Legisan Sugimin yang mengutip Al-Quran yang menjelaskan orang yang mati itu ingin dikembalikan ke dunia, serta penelusuran melalui internet tentang Dr Raymond. Bagi pembaca yang ingin mengetahui perihal Dr Raymond dapat membuka situs www.lifeafterlife. com dan hasil penelitian Raymond tentang mati suri dapat dibaca di buku Life After Life.

Aslina adalah warga Bengkalis yang mati suri 24 Agustus 2006 lalu. Gadis berusia sekitar 25 tahun itu memberikan kesaksian saat nyawanya dicabut dan apa yang disaksikan ruhnya saat mati suri.

Sebelum Aslina memberi kesaksian, pamannya Rustam Effendi memberikan penjelasan pembuka. Aslina berasal dari keluarga sederhana, ia telah yatim. Sejak kecil cobaan telah datang pada dirinya. Pada umur tujuh tahun tubuhnya terbakar api sehingga harus menjalani dua kali operasi. Menjelang usia SMA ia termakan racun. Tersebab itu ia menderita selama tiga tahun. Pada umur 20 tahun ia terkena gondok (hipertiroid). Gondok tersebut menyebabkan beberapa kerusakan pada jantung dan matanya. Karena penyakit gondok itu maka Jumat, 24 Agustus 2006 Aslina menjalani check-up atas gondoknya di Rumah Sakit Mahkota Medical Center (MMC) Melaka Malaysia. Hasil pemeriksaan menyatakan penyakitnya di ambang batas sehingga belum bisa dioperasi.

”Kalau dioperasi maka akan terjadi pendarahan,” jelas Rustam. Oleh karena itu Aslina hanya diberi obat. Namun kondisinya tetap lemah. Malamnya Aslina gelisah luar biasa, dan terpaksa pamannya membawa Aslina kembali ke Mahkota sekitar pukul 12 malam itu. Ia dimasukkan ke unit gawat darurat (UGD), saat itu detak jantungnya dan napasnya sesak.Lalu ia dibawa ke luar UGD masuk ke ruang perawatan. ”Aslina seperti orang ombak (menjelang sakratulmaut, red). Lalu saya ajarkan kalimat thoyyibah dan syahadat. Setelah itu dalam pandangan saya Aslina menghembuskan nafas terakhir,” ungkapnya. Usai Rustam memberi pengantar, lalu Aslina memberikan kesaksiaanya.

”Mati adalah pasti. Kita ini calon-calon mayat, calon penghuni kubur,” begitu ia mengawali kesaksiaanya setelah meminta seluruh hadirin yang memenuhi Grand Ball Room Hotel Mutiara Merdeka Pekanbaru tersebut membacakan shalawat untuk Nabi Muhammad SAW. Tak lupa ia juga menasehati jamaah untuk memantapkan iman, amal dan ketakwaan sebelum mati datang. ”Saya telah merasakan mati,” ujar anak yatim itu. Hadirin terpaku mendengar kesaksian itu. Sungguh, lanjutya, terlalu sakit mati itu.

Diceritakan, rasa sakit ketika nyawa dicabut itu seperti sakitnya kulit hewan ditarik dari daging, dikoyak. Bahkan lebih sakit lagi. ”Terasa malaikat mencabut (nyawa, red) dari kaki kanan saya,” tambahnya. Di saat itu ia sempat diajarkan oleh pamannya kalimat thoyibah. ”Saat di ujung napas, saya berzikir,” ujarnya. ”Sungguh sakitnya, Pak, Bu,” ulangnya di hadapan lebih dari 300 alumni ESQ Pekanbaru.

Diungkapkan, ketika ruhnya telah tercabut dari jasad, ia menyaksikan di sekelilingnya ada dokter, pamannya dan ia juga melihat jasadnya yang terbujur. Setelah itu datang dua malaikat serba putih mengucapkan Assalaimualaikum kepada ruh Aslina. ”Malaikat itu besar, kalau memanggil, jantung rasanya mau copot, gemetar,” ujar Aslina mencerita pengalaman matinya. Lalu malaikat itu bertanya: ‘’siapa Tuhanmu, apa agamamu, dimana kiblatmu dan siapa nama orangtuamu.” Ruh Aslina menjawab semua pertanyaan itu dengan lancar. Lalu ia dibawa ke alam barzah. ”Tak ada teman kecuali amal,” tambah Aslina yang Ahad malam itu berpakaian serba hijau.

Seperti pengakuan pamannya, Aslina bukan seorang pendakwah, tapi malam itu ia tampil memberikan kesaksian bagaikan seorang muballighah. Di alam barzah ia melihat seseorang ditemani oleh sosok yang mukanya berkudis,badan berbulu dan mengeluarkan bau busuk. Mungkin sosok itulah adalah amal buruk dari orang tersebut.

Aslina melanjutkan. ”Bapak, Ibu, ingatlah mati,” sekali lagi ia mengajak hadirin untuk bertaubat dan beramal sebelum ajal menjemput. Di alam barzah, ia melanjutkan kesaksiannya, ruh Aslina dipimpin oleh dua orang malaikat. Saat itu ia ingin sekali berjumpa dengan ayahnya. Lalu ia memanggil malaikat itu dengan ”Ayah”. ”Wahai ayah bisakah saya bertemu dengan ayah saya,” tanyanya. Lalu muncullah satu sosok. Ruh Aslina tak mengenal sosok yang berusia antara 17-20 tahun itu. Sebab ayahnya meninggal saat berusia 65 tahun. Ternyata memang benar, sosok muda itu adalah ayahnya. Ruh Aslina mengucapkan salam ke ayahnya dan berkata: ”Wahai ayah, janji saya telah sampai.” Mendengar itu ayah saya saya menangis. Lalu ayahnya berkata kepada Aslina. ”Pulanglah ke rumah, kasihan adik-adikmu. ” ruh Aslina pun menjawab. ”Saya tak bisa pulang, karena janji telah sampai”.

Usai menceritakan dialog itu, Aslina mengingatkan kembali kepada hadirin bahwa alam barzah dan akhirat itu benar-benar ada. ”Alam barzah, akhirat, surga dan neraka itu betul ada. Akhirat adalah kekal,” ujarnya bak seorang pendakwah.

Setelah dialog antara ruh Aslina dan ayahnya. Ayahnya tersebut menunduk. Lalu dua malaikat memimpinnya kembali, ia bertemu dengan perempuan yang beramal shaleh yang mukanya bercahaya dan wangi. Lalu ruh Aslina dibawa kursi yang empuk dan didudukkan di kursi tersebut, disebelahnya terdapat seorang perempuan yang menutup aurat, wajahnya cantik. Ruh Aslina bertanya kepada perempuan itu. ”Siapa kamu?” lalu perempuan itu menjawab.”Akulah (amal) kamu.”

Selanjutnya ia dibawa bersama dua malaikat dan amalnya berjalan menelurusi lorong waktu melihat penderitaan manusia yang disiksa. Di sana ia melihat seorang laki-laki yang memikul besi seberat 500 ton, tangannya dirantai ke bahu, pakaiannya koyak-koyak dan baunya menjijikkan. Ruh Aslina bertanya kepada amalnya.”Siapa manusia ini?” Amal Aslina menjawab orang tersebut ketika hidupnya suka membunuh orang.

Lalu dilihatnya orang yang yang kulit dan dagingnya lepas. Ruh Aslina bertanya lagi ke amalnya tentang orang tersebut. Amalnya mengatakan bahwa manusia tersebut tidak pernah shalat. Selanjutnya tampak pula oleh ruh Aslina manusia yang dihujamkan besi ke tubuhnya. Ternyata orang itu adalah manusia yang suka berzina. Tampak juga orang saling bunuh, manusia itu ketika hidup suka bertengkar dan mengancam orang lain.

Dilihatkan juga pada ruh Aslina, orang yang ditusuk dengan 80 tusukan, setiap tusukan terdapat 80 mata pisau yang tembus ke dadanya, lalu berlumuran darah, orang tersebut menjerit dan tidak ada yang menolongnya. Ruh Aslina bertanya pada amalnya. Dan dijawab orang tersebut adalah orang juga suka membunuh. Ada pula orang yang dihempaskan ke tanah lalu dibunuh. Orang tersebut adalah anak yang durhaka dan tidak mau memelihara orang tuanya ketika di dunia.

Perjalanan menelusuri lorong waktu terus berlanjut. Sampailah ruh Aslina di malam yang gelap, kelam dan sangat pekat sehingga dua malaikat dan amalnya yang ada disisinya tak tampak. Tiba-tiba muncul suara orang mengucap : Subnallah, Alhamdulillah dan Allahu Akbar. Tiba-tiba ada yang mengalungkan sesuatu di lehernya. Kalungan itu ternyata tasbih yang memiliki biji 99 butir.

Perjalanan berlanjut. Ia nampak tepak tembaga yang sisi-sisinya mengeluarkan cahaya, di belakang tepak itu terdapat gambar Ka’bah. Di dalam tepak terdapat batangan emas. Ruh Aslina bertanya pada amalnya tentang tepak itu. Amalnya menjawab tepak tersebut adalah husnul khatimah. (Husnul khatimah secara literlek berarti akhir yang baik. Yakni keadaan dimana manusia pada akhir hayatnya dalam keadaan (berbuat) baik, red).

Selanjutnya ruh Aslina mendengarkan azan seperti azan di Mekkah. Ia pun mengatakan kepada amalnya. ”Saya mau shalat.” Lalu dua malaikat yang memimpinnya melepaskan tangan ruh Aslina. ”Saya pun bertayamum, saya shalat seperti orang-orang di dunia shalat,” ungkap Aslina. Selanjutnya ia kembali dipimpin untuk melihat Masjid Nabawi. Lalu diperlihatkan pula kepada ruh Aslina, makam Nabi Muhammad SAW. Dimakam tersebut batangan-batangan emas di dalam tepak ”husnul khatimah” itu mengeluarkan cahaya terang. Berikutnya ia melihat cahaya seperti matahari tapi agak kecil. Cahaya itu pun bicara kepada ruh Aslina. ”Tolong kau sampaikan kepada umat, untuk bersujud di hadapan Allah.”

Selanjutnya ruh Aslina menyaksikan miliaran manusia dari berbagai abad berkumpul di satu lapangan yang sangat luas. Ruh Aslina hanya berjarak sekitar lima meter dari kumpulan manusia itu. Kumpulan manusia itu berkata. ”Cepatlah kiamat, aku tak tahan lagi di sini Ya Allah.” Manusia-manusia itu juga memohon. ”Tolong kembalikan aku ke dunia, aku mau beramal.”

Begitulah di antara cerita Aslina terhadap apa yang dilihat ruhnya saat ia mati suri. Dalam kesaksiaannya ia senantiasa mengajak hadirin yang datang pada pertemuan alumni ESQ itu untuk bertaubat dan beramal shaleh serta tidak melanggar aturan Allah. Setelah kesaksian Aslina, instruktur Pelatihan ESQ Legisan Sugimin yang telah mendapat lisensi dari Ary Ginanjar (pengarang buku sekaligus penemu metode Pelatihan ESQ) menjelaskan bahwa fenomena mati suri dan apa yang disaksikan oleh orang yang mati suri pernah diteliti ilmuan Barat. Legisan mengemukakan pula, mungkin di antara alumni ESQ yang hadir pada Ahad (24/9) malam itu ada yang tidak percaya atau ragu terhadap kesaksian Aslina. Tapi yang jelas, lanjutnya, rata-rata orang yang mati suri merasakan dan melihat hal yang hampir sama.

”Apa yang disampaikan Aslina, mungkin bukti yang ditunjukkan Allah kepada kita semua,” ujarnya. Legisan menjelaskan penelitian oleh Dr Raymond A Moody Jr tentang mati suri. Raymond mengemukakan orang mati suri itu dibawa masuk ke lorong waktu, di sana ia melihat rekaman seluruh apa yang telah ia lakukan selama hidupnya. Dan diakhir pengakuan orang mati suri itu berkata: ”Dan aku ingin agar aku dapat kembali dan membatalkan semuanya.”

Menanggapi kesaksian Aslina yang melihat orang-orang berteriak ingin dikembalikan ke dunia dan ingin beramal serta penelitian Raymond yang menyebutkan ”aku ingin agar aku dapat kembali dan membatalkan semuanya,” Legisan mengutip ayat Al-Quran Surat Al-Mu’muninun (23) ayat 99-100:

Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata:”Ya, Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia).”(99) . Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.(100).

Sebagai penguat dalil agar manusia bertaubat, dikutipkan juga Quran Surat Az-Zumar ayat 39: ”Dan kembalilah kamu kepada Tuhan-Mu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).”

Usai pertemuan alumni itu, Aslina meminta nasehat dari Legisan. Intruktur ESQ itu menyarankan agar Aslina senatiasa berdakwah dan menyampaikan kesaksiaannya saat mati suri kepada masyarakat agar mereka bertaubat dan senantiasa mentaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Setelah acara, banyak di antara alumni yang bersimpati dan ingin membantu pengobatan sakit gondoknya. Para hadirinpun menyempat diri untuk berfoto bersama Aslina.

Semoga pembaca dapat mengambil pelajaran dari kesaksiaan tersebut.

NB : Bagikan cerita ini kepada semua orang, agar mereka mendapat hikmahnya dari cerita ini. Ternyata hidup ini hanya sementara, dan hanya amal serta hati yang bersih yang menuntun kita menuju jalan kehadapan Ilahi


Sumber: Tulisan sugianto parjan

Rabu, 11 Agustus 2010

Wedang Jahe, Minuman Sehat Berbuka





Wedang Jahe, Minuman Sehat Berbuka
Foto: unessentials.efahmi.info
Jakarta - Berbuka puasa memang dianjurkan dengan yang manis. Tapi jangan lantas semua jenis makanan dan minuman manis dihajar habis. Cermati setiap asupan makanan dan minuman agar kondisi tubuh Anda tetap prima. Salah satunya dengan membuat wedang jahe hangat yang istimewa. Cobain yuk!

Saat puasa, kadang kita mengalami yang namanya 'lapar mata'. Hampir setiap makanan dan minuman yang dilihat lantas dipingini untuk berbuka. Padahal belum tentu makanan dan minuman itu nantinya bisa langsung disantap, atau bahkan justru membuat lambung Anda yang seharian kosong jadi 'kaget' dibuatnya.

Nah, agar terhindar dari hal yang tidak diinginkan coba deh buat minuman tradisional ini. Yak, wedang jahe ini cukup baik disajikan sebagai minuman berbuka puasa yang enak dan juga sehat! Mengapa demikian? hal ini disebabkan oleh gas lambung yang berada di dalam lambung meningkat selama Anda berpuasa. Untuk menghilangkannya cukup dengan meminum wedang jahe.

Rasa hangat dari jahe, kapulaga, dan juga cengkih bisa menghangatkan lambung dan membuang gas yang berada di dalamnya. Sehingga saat di isi dengan hidangan lain, lambung tidak kaget dan juga tidak mengalami kram sesudahnya. Selain itu, sumber rasa manis nya bisa menggantikan tenaga yang hilang setelah seharian puasa. Nah, kalau Anda ingin mencoba membuatnya di rumah sepulang kerja nanti bisa di coba resep singkat ini.

Bahan yang perlu disiapkan antara lain, bakarlah 6 cm jahe tua dan 4 cm jahe merah hingga kulitnya mengelupas, bersihkan lalu memarkan. Rebus 750 ml air bersama 1 lembar daun pandan, 1 batang serai yang dimemarkan, 2 butir cengkih, 2 butir kapulaga dan 5 butir merica putih/hitam hingga mendidih. Masukkan jahe dan tambahkan 100 g gula merah dan 2 sdm gula pasir. Rebus dengan api kecil sampai air menyusut seperempat bagian. Angkat dan saring. Jika suka, wedang jahe ini enak juga dinikmati dengan madu.

Oleh : Detik food

Selasa, 03 Agustus 2010

Kenapa Tanpa Sadar Orang Sering Bersenandung?

Vera Farah Bararah - detikHealth


img
ilustrasi (Foto: thinkstock)
Jakarta, Saat di jalan, dalam kendaraan atau sedang bekerja orang kadang tak sadar sedang menyanyikan sebuah lagu. Kenapa sebuah lagu bisa terekam di kepala dan dinyanyikan tanpa disadari?

Para ahli menuturkan kondisi ini disebut dengan earworms (atau ohrwurms dalam bahasa Jerman). Kondisi ini bukan berarti ada parasit yang masuk ke dalam telinga.

Tapi karena lagu tersebut telah terjebak di kepala seseorang sehingga menyebabkan 'cognitive itch' atau 'brain itch', yaitu suatu kebutuhan untuk mengisi celah di dalam otak oleh irama lagu.

Dikutip dari Howstuffworks, Selasa (3/8/2010) ketika seseorang mendengarkan lagu, maka akan memicu bagian dari otak yang disebut dengan auditory cortex (korteks pendengaran).

Peneliti dari Dartmouth University menemukan bahwa ketika seseorang mendengarkan sebuah lagu, maka secara otomatis korteks pendengaran akan terisi dengan lagu tersebut. Dengan kata lain otak akan terus menyanyi hingga lagu tersebut berakhir.

Semakin sering lagu tersebut di dengar, maka lagu ini akan berulang-ulang di putar di dalam pikiran seseorang. Nantinya lagu ini akan terjebak di dalam kepala seseorang, sehingga tanpa disadari seseorang akan menyanyikan lagu tersebut.

Semakin orang berusaha untuk tidak memikirkan lagu tersebut, maka akan semakin sulit lagu tersebut dikeluarkan dari kepala. Contohnya seseorang tiba-tiba sadar, 'Kok nyanyi lagu ini sih, nggak mau ah'. Tapi semakin tidak ingin menyanyikan lagu itu semakin sulit lagu itu keluar dari otak.

Beberapa ahli lainnya menuturkan bahwa earworms adalah salah satu cara untuk menjaga agar otak tetap sibuk. Kondisi ini juga dikenal dengan nama 'repetunitis' hingga 'melodymania'.

James Kellaris dari University of Cincinnati College yang pernah melakukan penelitian tentang earworms dan brain itch menuturkan bahwa kaum perempuan, musisi, orang yang memiliki gangguan saraf serta orang yang lelah dan stres adalah kelompok yang paling rentan terkena earworms.

Pada umumnya lagu dengan melodi yang sederhana, ceria, menarik atau berulang cenderung lebih mudah terjebak di dalam kepala seseorang. Sekitar 74 persen seseorang terjebak oleh sebuah lirik lagu, sekitar 15 persen terjebak oleh jingle iklan dan 11 persen terjebak oleh lagu-lagu instrumen.

Sebagian besar earworms bisa hilang dengan sendirinya, tapi jika lagu tersebut sudah sangat mengganggu pikiran seseorang ada beberapa hal yang bisa dicoba untuk menghilangkannya dari dalam kepala, yaitu:
  1. Cobalah untuk menyanyikan lagu atau memainkan melodi lain dengan menggunakan instrumen.
  2. Beralihlah ke aktivitas lain yang bisa membuat seseorang menjadi sibuk, sehingga pikirannya tidak tertuju pada sebuah lagu.
  3. Usahakan untuk mendengarkan beberapa jenis lagu.
  4. Cobalah untuk menyalakan radio sehingga seseorang tidak hanya mendengarkan satu lagu yang sama secara terus menerus.